UIN IB Padang Ikut Andil Pelestarian Harimau Sumatera

Thursday, 28 August 2025 : 17:54
Baca Lainnya
FOTO BERSAMA - Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof.Dr.Martin Kustati (dua dari kiri) foto bersama dengan Ketua PPNI Universitas Nasional, Dr.Fachruddin Mangunjaya (tiga dari kiri) dan pejabat lainnya, sesuai penandatanganan kerjasama di kampus III UIN IB Padang, Kamis (28/8). (Hendri Nova)

Padang - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Prof.Dr.Martin Kustati, menegaskan bahwa sebagai Khalifah di muka bumi, Allah SWT memerintahkan manusia agar
jangan membuat kerusakan di muka bumi. Salah satunya merusak ekosistem dengan pembalakan liar, ataupun aktivitas tidak bertanggung jawab lainnya.

Jika ini dilakukan, maka akan terjadi ketidakseimbangan di alam raya, sehingga terjadilah banyak kerusakan. Jika sudah terjadi kerusakan misalnya di hutan, maka penghuni hutan seperti harimau bisa keluar dari habitatnya.

"Menjaga harimau atau inyiak seperti disebut oleh orang tua kita dahulunya, merupakan bagian dari tugas kita menjaga kelestarian lingkungan. Sekecil apapun tindakan kita di muka bumi, akan berpengaruh pada alam. Sekarang tindakan seperti apa yang kita lakukan, apakah tindakan yang positif atau negatif," ucapnya, seusai memberi sambutan dalam acara dialog budaya dan kemerdekaan di Kampus III UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (28/8).

Ia mengatakan, merusak alam sama saja dengan merusak ciptaan Allah SWT. Jika sudah rusak, jangan salahkan jika alam balik menyusahkan kehidupan manusia, baik banjir, galodo, harimau masuk kampung, atau lainnya.

"Tugas kita sebagai akademisi menjaga ekosistem alam, terutama sekitar kampus. UIN Imam Bonjol Padang akan berkontribusi nyata dalam hal ini, dan kami siap berkolaborasi dengan instansi terkait," tambahnya.

Saat ini saja, UIN Imam Bonjol Padang sedang semangat-semangatnya melakukan penghijauan lingkungan dengan pohon-pohon asli Sumatera Barat (Sumbar). UIN Imam Bonjol Padang bahkan sedang mendata, pohon-pohon langka mana saja yang mendesak untuk dilestarikan dan segera dilakukan penanaman kembali.
Sementara Ketua Panitia Pelaksana, Prof Yasrul Huda, berharap acara ini dapat memberikan manfaat terkait konservasi harimau di Sumatera. UIN Imam Bonjol Padang menurutnya sangat mendukung hal ini, karena juga merupakan bagian pengabdian kepada masyarakat.

"Kami sangat mengapresiasi bisa bekerjasama dengan WWF untuk konservasi harimau. UIN Imam Bonjol Padang ingin berkontribusi lebih banyak lagi untuk masyarakat dan juga untuk alam sekitar," ujarnya.

Ia mengatakan, UIN Imam Bonjol Padang juga akan merangkul masyarakat sekitar, untuk sama-sama menjaga alam. Jika kita banyak memberi pada alam, maka alam juga akan banyak memberi pada manusia.

Sementara Ketua PPNI Universitas Nasional, Dr.Fachruddin Mangunjaya, mengatakan pihaknya ingin berkolaborasi dan bekerja sama dengan UIN Imam Bonjol Padang, terkait pelestarian harimau Sumatera yang masih banyak hidup di hutan-hutan Sumatera saat ini.

"Kalau kita lindungi harimau maka binatang lain, juga ikut terlindungi, karena harimau adalah raja hutan. Harimau adalah bendera, penyelamat hutan. Jika ada harimau dalam satu hutan, maka radius beberapa kilometer minimal terjaga kelestarian alamnya," ungkapnya.

Menurutnya, harimau telah banyak punah di Jawa dan di Bali, dan hanya bertahan di Sumatera saj. Kenapa mereka bisa bertahan itu yang akan dipelajari.

"Di Minang ini ada kearifan lokal yang tak dimiliki provinsi lain, terhadap perlakuan pada harimau atau sering disebut inyiak. Ada etika masuk hutan, dengan salam kusus pada inyiak. Jika inyiak masuk kampung tidak diburu, tapi dibawa ke sidang adat, dianggap sebagai pertanda bencana," ungkapnya.

Ia berharap dengan kolaborasi ini, nantinya akan memberikan kontribusi positif bagi pelestarian harimau di hutan. Jika harimau hidup di hutan, maka komunitas binatang lainnya juga akan lestari, karena di sana ada rajanya. 

Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara UIN Imam Bonjol Padang dengan Universitas Nasional. (Hendri)


Share :

Saat ini 0 komentar :