Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 2026 Rentang 3,79-4,59 Persen

Thursday, 12 March 2026 : 16:28
Baca Lainnya

PAPARKAN FAKTA - Kepala Kantor Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram (tengah), didampingi dua pejabat BI lainnya, memaparkan pertumbuhan ekonomi Sumbar 2026, saat acara buka puasa bersama, di aula BI Sumbar, Rabu (11/3). (Hendri Nova)

Padang - Ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) 2026 diprakirakan tumbuh tidak jauh dari pertumbuhan periode sebelumnya pada rentang 3,79-4,59% (yoy). Adapun sumber pertumbuhan adalah recovery/rekonstruksi infrastruktur pasca bencana, dan progress pembangunan flyover sitinjau lauik. 

Meski demikian, terdapat potential risk yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah, terutama apabila pemulihan ekonomi pasca bencana tidak dilakukan secara cepat, serta beberapa hambatan penyelesaian pembangunan proyek infrastruktur.

"Sampai dengan Agustus 2025, laju perkembangan inflasi masih terjaga pada target dengan nilai 2.89% (yoy). Namun cuaca ekstrim yang terjadi mulai dari bulan September, utamanya di Pasaman Barat dan puncaknya bencana hidrometeorologi pada akhir Nov‘25 mengakibatkan inflasi meningkat di atas target (5.15% yoy), tertinggi nomor 2 setelah Prov. Aceh," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, saat acara buka puasa bersama, di aula BI Sumbar, Rabu (11/3).

Pada kesempatan itu juga dipaparkan upaya pengendalian harga dan digitalisasi pembayaran dalam mendukung stabilitas ekonomi selama Ramadhan 1447 H. Menurutnya, upaya untuk mengendalikan harga pangan akibat bencana mulai dilakukan pada Desember 3025 dan secara tidak langsung berdampak pada deflasi pada Jan’26 sebesar -1.15% (mtm) yang bersumber dari deflasi cabai merah, bawang merah, dan terkendalinya harga beras. 

"Upaya pengendalian Inflasi juga tercermin pada inflasi Feb’26 sebesar 0,30% (mtm), lebih rendah dibandingkan nasional 0,68% (mtm) di tengah momentum Ramadan," tambahnya.

Terkait QRIS, hingga triwulan IV 2025 transaksi QRIS masih tinggi, didukung oleh peningkatan jumlah pengguna. Sementara volume transaksi BI-FAST mencatat kenaikan terbatas, dengan nominal yang tetap meningkat. Di sisi lain, transaksi kartu debit dan SKNBI masih diminati oleh Masyarakat Sumbar, meskipun sebagian mulai beralih menuju kanal pembayaran digital yang lebih efisien.

"Kinerja QRIS pada bulan Januari 2026 tetap solid, didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant," ungkapnya.

Terkait ekonomi Sumbar di 2025, terus mengalami perlambatan dan hanya tumbuh 3,37% (yoy), melambat dibandingkan 2024 sebesar 4,37% (yoy). Perlambatan tahun 2025 bersumber dari sektor perdagangan dan kontraksi yang terjadi pada Lapangan Usaha (LU) konstruksi dan transportasi. Kondisi ini tercermin pula dari kontraksi investasi dan konsumsi pemerintah serta rendahnya pertumbuhan konsumsi RT.

"Sektor ekonomi utama Sumbar masih tergantung pada sektor pertanian dan perdagangan. Perlambatan ekonomi 2025, terakselerasi di triwulan IV imbas bencana hidrometeorologi," tuturnya.

Secara sektoral, sektor pertanian dan industri pengolahan tumbuh lebih tinggi pada tahun 2025 didukung oleh peningkatan produksi padi dan kelapa sawit. Sedangkan berdasarkan komponen pengeluarannya, ekspor meningkat terutama komoditas CPO di tengah moderasi konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. (Hendri)




Share :

Saat ini 0 komentar :